Cerpen: Istahilagi
Jalal sudah berada di puncak pilihan. Tapi tetap saja, sedetik kemudian, menjadi patung kebimbangan. Dimantapkannya lagi sejenak. Tapi apa guna, gejolak yang rumit kembali tumbuh. Ransel di sampingnya sudah berisi rapi dengan pakaian. Loker dan laci sudah bersih. Tapi tangannya masih menggenggam erat buku kuning kecil miliknya.
Tak ada yang mengira bahwa di balik wajah periang itu, tersimpan kabut kelabu yang akhirnya menuntun ke pilihan pelik. Ia tak bisa berhadapan dengan keadaannya sendiri. Karenanya, sejak usai subuh -dan entah sampai kapan, ia mendiamkan diri. Mematung di tengah kemantapan yang dibongkarnya kembali.



