Showing posts with label Dunia Islam. Show all posts
Showing posts with label Dunia Islam. Show all posts

Tuesday, 30 August 2016

Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad 19


John L Burckhardt



Buku berjudul Travels in Arabia karangan John Ludwig Burckhardt terbit di London tahun 1829. Buku ini merekam catatan yang kaya akan data dan informasi terkait komunitas orang-orang Nusantara di tanah suci Mekkah-Madinah pada masa awal abad ke-19 M.

Burckhardt (1784—1817) adalah seorang orientalis Inggris asal Swiss yang berhasil menyusup masuk ke tanah suci Mekkah-Madinah (Haramayn) setelah terlebih dahulu melakukan penyamaran yang sukses; mengganti nama menjadi Haji Ibrahim ibn Abdullah, beridentitas seorang Muslim dari Albania, mengenakan pakaian khas Timur Tengah dengan jubah, surban, dan janggut yang menjuntai, dan utamanya kecakapan dalam menguasai bahasa Arab yang nyaris sempurna.

Sebelum mengembarai Hijaz (Haramayn), Burckhardt telah lebih dahulu menjelajahi negeri-negeri Timur Tengah lainnya yang pada masa itu berada di bawah kontrol kekuasaan Turki-Ottoman, seperti Aleppo, Suriah, Jerusalem, Petra (Burckhardt-lah yang dicatat oleh sejarah sebagai sosok yang menemukan kembali kota puba di tengah gugusan tebing sahara ini), Sinai, Mesir, Nubia, dan Sudan.

Ia pun menuliskan pengalaman pengembaraannya itu dalam buku catatan perjalanan yang luar biasa; Travels in Syria and the Holy Land, kemudian Travels in Nubia, dan Arabic Proverbs, or the Manners and Customs of the Modern Egyptians.

Burckhardt berada di Haramayn pada tahun 1814 M. Ia pun merekam beberapa peristiwa penting yang terjadi di Haramayn pada waktu itu, seperti peristiwa pemberontakan golongan Wahabi yang membangkang terhadap pemerintahan Turki-Ottoman, penumpasan atas gerakan tersebut yang dilakukan oleh Ibrahim Pasha dan pasukannya, putera Muhammad Ali Pasha yang merupakan seorang veli (gubernur) Turki-Ottoman untuk elayet (wilayah) Mesir. Atas peristiwa ini, Burckhardt menulis Notes on the Bedouins and Wahabys.


Setelah selesai melaksanakan “faraidh” ibadah haji, Burckhardt pun ikut serta bersama arak-arakan besar kafilah lainnya menuju Madinah guna menziarahi pesarean dan masjid Nabi Muhammad.


Nah, saat itulah Burckhardt bergabung bersama rombongan kecil jemaah haji asal Melayu-Nusantara di dalam arak-arakan kafilah besar itu.


Jarak yang jauh antara Mekkah dan Madinah (sekitar 490 KM) ditempuh dengan berjalan kaki dan naik unta. Tak ada yang berjalan sendiri atau dalam rombongan kecil. Semua Jemaah berangkat secara serentak bersama arak-arakan besar kafilah perjalanan yang jumlahnya bisa ratusan orang. Hal ini untuk meringankan beban perjalanan yang penuh resiko dan bahaya, utamanya ancaman para penyamun dan perompak bengis orang-orang Beduin yang datang kapan saja.

Burckhardt menulis:
“Hari ini aku telah menjalin sebuah hubungan yang lebih akrab dengan teman-teman seperjalananku. Dalam sebuah kafilah perjalanan yang kecil, setiap orang dipaksa untuk dapat berjalan beriringan bersama rombongannya, tidak terpisah darinya. Para rombongan itu adalah orang-orang Melayu, atau sebagaimana disebut di Arab sini dengan sebutan 'Jawi'”.


Selain mereka yang berasal dari pesisir Semenanjung (Malaka), mereka juga ada yang berasal dari Sumatra, Jawa, dan pesisir Malabar. Semuanya adalah (jajahan) Inggris. Orang-orang Melayu pergi rutin berhaji dengan ditemani istri mereka. Sebagian besar mereka ada yang memilih tinggal di Mekkah Mukarramah dalam tempo beberapa tahun lamanya untuk belajar Alquran dan ilmu-ilmu syari’at.


Orang-orang Jawi ini di Haramayn terkenal sebagai orang-orang yang taat beragama, disiplin dalam menuntut ilmu, atau minimal disiplin dalam menjalankan ritual agama Islam mereka. Sedikit dari mereka yang mampu berbicara bahasa Arab dengan sempurna, namun semua dari mereka membaca Alquran, dan sangat bersemangat untuk mempelajarinya meskipun dalam perjalanan.


Mereka menutupi biaya perjalanan dengan menjual kayu (al-Alûh Haits?) yang berkualitas tinggi dan dibawa dari negeri mereka, kerap juga disebut (Mâwardî). Harga satu pound timbangannya adalah tiga sampai empat dolar di negeri asal mereka, dan dijual di Mekkah dengan harga dua puluh sampai dua puluh lima dolar.


Baju mereka yang longgar, rahang mereka yang menonjol, perawakan mereka yang pendek dan kekar, dan gigi mereka yang bertumpuk menjadi ciri khas tersendiri bagi pengidentitasan tipikal orang-orang Jawi. Para perempuan Melayu memakai baju kurung, namun tidak semuannya memakai khimar, juga selendang dari kain sutera yang tersulam, buatan Cina.


Tampaknya mereka adalah bangsa yang memiliki adat yang kukuh, berimbang, berkarakter tenang, namun terkadang juga pelit. Sepanjang perjalanan mereka makan nasi dan ikan asin. Mereka menanak nasi dengan air tanpa diberi tambahan zibdah (minyak samin). Zibdah adalah bahan pakan yang sangat mahal harganya di Haramayn namun mereka sangat menyukainya. Sebagian orang Jawi ada yang datang ke pelayanku meminta zibdah untuk ditambahkan ke periuk nasi mereka. Meskipun mereka memiliki cukup uang, namun pola makan mereka biasa saja (yaitu nasi dan ikan asin).


Namun, mereka pernah terkena laknat para gerombolan pencuri padang pasir. Para pencuri itu menjarah peralatan masak orang-orang Jawi itu; periuk nasi yang sedang dimasak oleh air, nampan mereka berbahan tembaga buatan Cina, dan teko air mereka tidak seperti yang kerap digunakan orang-orang Timur lainnya (biasa untuk mencuci dan wudhu), tetapi orang-orang Jawi ini membawa teko teh Cina yang mahal.

Di sela-sela kebersamaanku dengan orang-orang Melayu itu, aku menjadi memiliki kesempatan untuk bertanya kepada mereka tentang pendapat mereka akan pemerintahan kolonial Inggris di negeri mereka. Yang mengejutkan, ternyata mereka menyatakan kebencian dan permusuhan mereka terhadap pihak Inggris. Mereka juga mensumpah serapahi perilaku orang-orang Inggris dan melaknatnya sampai habis. Hal terburuk yang paling tidak disukai mereka (orang-orang Jawi) dari orang-orang Inggris adalah kebiasaan mabuk-mabukan. Lelaki dan perempuan berbaur menjadi satu dalam hubungan sosial kemasyarakatan.


Meski demikian, orang-orang Melayu ini jarang yang mengkritik masalah keadilan pemerintahan kolonial Inggris. Pihak Inggris justru lebih baik jika dibanding dengan kesewenang-wenangan penguasa lokal orang-orang Melayu (bupati, dll). Jadi, meskipun orang-orang Melayu ini menyerapahi pihak Inggris dengan berbagai sumpah serapah dan laknat durjana, namun mereka juga memberikan pujian kepadanya dengan mengatakan “tapi pemerintahan mereka bagus”. Burckhardt menyebut semua kawasan Nusantara pada masa itu berada di bawah kontrol pemerintahan Inggris, bertepatan dengan masa pemerintahan Gubernur Letnan Sir Thomas Raffles (memerintah 1811—1816).

Di masa yang bersamaan, yaitu perempat pertama abad ke-19 M, saat itu terdapat beberapa ulama Nusantara yang berkiprah di Mekkah, seperti Mahmud ibn Arsyad al-Banjari (putera Syaikh Arsyad Banjar), Fathimah binti Abd al-Shamad al-Palimbani (puteri Syaikh ‘Abd al-Shamad Palembang), Shalih Rawah, Ismail al-Mankabawi al-Khalidi (Minangkabau), ‘Abd al-Ghani al-Bimawi (Bima, Sumbawa), dan lain-lain. (a.ginanjar sya’ban)
Baca Lengkapnya → Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad 19

Mencari Berkah dari Jubah Rasulullah


Pakaian merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Dari sisi fungsi, pakaian digunakan untuk menghangatkan badan ketika cuaca dingin dan menutupi tubuh dari terik matahari. Dalam agama, pakaian digunakan untuk menutup aurat. Pakaian juga berfungsi sebagai penunjuk identitas kelompok.

Ada sebuah kisah menarik soal pakaian. Kisah tersebut terjadi pada masa Nabi Muhammad saw. Suatu ketika datang seorang perempuan kepada Rasulullah membawa jubah. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menenun (jubah) ini dengan tanganku sendiri supaya aku dapat memakaikannya padamu,” kata wanita itu sambil menunjukkan barang yang ada di tangannya. Kemudian Rasulullah saw mengambilnya, karena beliau butuh jubah tersebut. Setelah itu Rasulullah keluar dengan memakai jubah serta memperlihatkan tenunan wanita tadi kepada para sahabatnya.

Kemudian datanglah seorang laki-laki seraya berkata, ”Sungguh indah jubahmu itu wahai Rasul! Bolehkah kau memakaikannya padaku.” Beliau kemudian masuk dan melipatnya, lalu memberikannya kepada laki-laki yang beruntung tersebut.

Orang-orang lalu berkata kepada pemuda itu, “Demi Allah, sungguh beruntung kamu, (padahal) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memakainya karena butuh jubah itu, kemudian kamu memintanya. Kamu sebenarnya sangat tahu bahwa beliau tidak pernah bisa menolak orang yang meminta.”

Pemuda itu berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidaklah meminta jubah itu untuk aku pakai, tetapi aku minta itu untuk aku pakai sebagai kain kafanku.” Maka jubah itu pun menjadi kain kafan lelaki tersebut ketika ia meninggal dunia.

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas adalah kesesuaian perilaku Rasul dengan Alquran. Seperti yang telah difirmankan Allah dalam kitab-Nya “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” Di sini kita bisa mengatakan bahwa Rasulullah adalah Alquran berjalan. Beliau mempraktikkan Alquran yang telah menjadi wahyu sekaligus petunjuk bagi diri serta umatnya. Dari sini, maka sangat layak bila Allah menyebut beliau sebagai uswah hasanah (teladan yang baik dalam menjalankan agama).


Pelajaran berikutnya, bahwa sang sahabat mengajarkan cara tabarruk (mencari berkah). Yaitu dengan meminta jubah yang pernah dikenakan Nabi. Inilah yang disebut oleh para ulama dengan tabarruk bi adz-dzat (mencari berkah dari benda yang digunakan Nabi). Segala yang pernah melekat pada diri Nabi selalu menjadi rebutan di antara sahabat. Termasuk sehelai rambut beliau. Betapa para sahabat mencintai Rasulnya. Subhanallah.  (nur)
Baca Lengkapnya → Mencari Berkah dari Jubah Rasulullah

Thursday, 25 August 2016

Gus Mus: Beragama Jangan Dipersulit

  • Dai Harus Miliki Ruhuddakwah

MALANG-Islam di Indonesia saat ini lebih banyak memperlihatkan wajah marah daripada ramah. Mengapa begitu? Hal ini karena esensi dakwah telah menghilang dan luput dari karakter pendakwah Muslim di negeri ini. Demikian pesan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam Silaturahmi dan Tausyiah di Masjid Universitas Negeri Malang (UM), kemarin.
Baca Lengkapnya → Gus Mus: Beragama Jangan Dipersulit

Awasi JCH, PPIH Gandeng Keamanan Haram

AHMAD DUMYATI BASORI|KMG
MAKKAH-Ketua Panitia Penyelanggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Ahmad Dumyati Basori beserta jajarannya, mengadakan pertemuan informal dengan kepala keamanan Masjidil Haram Brigader Abdullah bin Muhammad Al Aosimi. Pertemuan yang digelar di kantor Kepala Keamanan Haram ini dihadiri juga oleh Atase Pertahanan KBRI RIyadh Drajad Brimayoga dan wakilnya Dafris M Prabu, Kepala Daker Makkah Arsyad Hidayat, serta Kabid Perlindungan Jemaah Jaetul Mukhlis.
Baca Lengkapnya → Awasi JCH, PPIH Gandeng Keamanan Haram

Wednesday, 24 August 2016

Mungkinkah Manusia Biasa Bersama Nabi di Surga

Tsauban merupakan budak Rasulullah yang di kemudian hari ia dimerdekakan. Karena setiap hari ia melihat perilaku dan adab Nabi, cintanya kepada Nabi semakin tumbuh lebat. Bahkan kecintaannya melebihi cintanya kepada keluarga Tsauban sendiri.
Habib Muhammad bin Husain Anis mengisahkan bahwa suatu saat Tsauban didatangi Rasulullah saw. Namun Baginda Nabi mendapati kulit Tsauban yang telah berubah, tubuhnya menjadi kurus, di wajahnya tampak menyimpan raut muka kesedihan. Ia seperti orang yang sedang menderita sakit.
Baca Lengkapnya → Mungkinkah Manusia Biasa Bersama Nabi di Surga

Santri Madura Digendong Lumba-lumba

Syekh Muhammad Sholih bin Umar as-Samarany
atau biasa dipanggil Mbah Sholeh Darat.
Pondok Pesantren Darat yang terletak di kampung Melayu Darat, Semarang, dulu terkenal sebagai pondok “pamungkas”. Ibarat universitas, pondok ini banyak dihuni santri yang telah lulus sarjana. Ibaratnya seperti pondok pascasarjana.

Para santri biasanya sudah menempuh studi di mana-mana, sudah berguru pada kiai-kiai Nusantara, lalu sebagai puncak pengembaraan ilmunya, datang ke nDarat untuk tabarrukan Syekh Muhammad Sholih bin Umar as-Samarany atau biasa dipanggil Mbah Sholeh Darat. Istilahnya ngaji untuk mbilasi. Mirip tindakan mengguyur air untuk pembilasan terakhir dalam aktivitas mencuci pakaian.
Baca Lengkapnya → Santri Madura Digendong Lumba-lumba

Tiga Kiai Sudah Prediksi Kemerdekaan RI


SANTRI: Ribuan santri Ponpes Sidogiri Pasuruan 
saat upacara bendera dalam rangka peringatan 
17 Agustus beberapa hari lalu.(ist) 

Ulama Indonesia, jauh sebelum 17 Agustus 1945 sudah memprediksikan negeri ini akan mengalami gangguan dan akhirnya mampu meraih kemerdekaan. Gangguan terhadap harkat dan martabat bangsa ini, tak lain untuk menguji semangat persatuan dan kesatuan. Tanpa adanya lawan yang merampas marwah bangsa Indonesia, maka persatuan sangat sulit diciptakan.

Namun dengan hadirnya penjajah, maka seluruh warga bangsa merasa memiliki dan meminta kembali hak pribumi. Oleh para ulama, masyarakat yang beragama Islam diajak melakukan serangkaian mujahadah, istighatsah, tirakat dan doa bersama agar Indonesia selamat dari penjajahan dan bisa merdeka.
Baca Lengkapnya → Tiga Kiai Sudah Prediksi Kemerdekaan RI

Saturday, 20 August 2016

KH Hasyim Asy'ari dan Penyepuhan Bambu Runcing

Kota Parakan pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI, yaitu tidak lama dari saat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Di kota kecil yang kini masuk kabupaten Temanggung Jawa Tengah ini di dalamnya berdomisili beberapa kiai yang oleh masyarakat luas dikenal mempunyai ilmu hikmah yang kemudian di tangan mereka atas- izin Allah- bambu runcing memiliki pamor atau tuah sebagai bekal senjata perjuangan tentara dan rakyat dalam menghadapi penjajah kolonial yang hendak kembali menguasai tanah air Indonesia.
Baca Lengkapnya → KH Hasyim Asy'ari dan Penyepuhan Bambu Runcing

KH Subkhi, Guru Jenderal Soedirman

Revolusi kemerdekaan Indonesia ditopang oleh perjuangan kaum santri dan barisan Kiai yang menyelamatkan negeri. Sayangnya, kisah perjuangan para kiai dan santri, tenggelam dalam narasi sejarah Indonesia. Salah satunya, Kiai Subkhi Parakan, yang dikenal dengan "Kiai Bambu Runcing".

Kiai Subkhi lahir di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, sekitar tahun 1850. Subkhi, atau sering disebut dengan Subeki, merupakan putra sulung Kiai Harun Rasyid, penghulu masjid di kawasan ini. Subkhi kecil bernama Muhammad Benjing, nama yang disandang ketika lahir. Setelah menikah, nama ini diganti menjadi Somowardojo,  kemudian nama ini diganti ketika naik haji, menjadi Subkhi.
Baca Lengkapnya → KH Subkhi, Guru Jenderal Soedirman

Friday, 19 August 2016

Memberi Hidangan Majelis Tahlil Tak Dilarang

Di tengah masyarakat kita, selain ada tradisi pembacaan tahlil setelah kematian ada penjamuan dari pihak keluarga duka yang diberikan kepada para jamaah. Pada biasanya, penjamuan ini dengan menu ala kadarnya, seperti teh, kopi atau makanan ringan lainnya. Meskipun ada pula yang terlihat mewah manakala tahlilan yang diadakan oleh keluarga yang mampu secara ekonomi.
Baca Lengkapnya → Memberi Hidangan Majelis Tahlil Tak Dilarang

Karya Kiai Ma’shum, Dicetak di Mesir dan Dikoleksi di Kanada

Hasyiah Tasywiqul Khallan ‘ala Syarhil Ajurumiyyah


Kitab Hasyiah Tasywiqul Khallan ‘ala Syarhil Ajurumiyyah karangan KH Muhammad Ma’shum ibn Salim al-Safuthani al-Samarani, seorang ulama Nusantara asal Seputon, Semarang (Jawa Tengah). Kitab ini dicetak dan diterbitkan oleh ‘Isa al-Babi al-Halabi di Mesir pada tahun 1303 H (1886 M). Naskah ini menjadi koleksi Robarts Library, University of Toronto, Kanada.
“Tasywiqul Khallan” merupakan hasyiah (komentar panjang) atas syarh (penjelasan) “Mukhtashar Jiddan” (karangan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, w. 1866 M) atas matan (teks) al-Ajurumiyyah, kitab monumental gramatika Arab (nahw) karangan Muhammad ibn Jurum al-Shanhaji, w. 1323 M.
Baca Lengkapnya → Karya Kiai Ma’shum, Dicetak di Mesir dan Dikoleksi di Kanada

Isinya Dipuji, Etikanya Dicaci

KONTROVERSI DOA PARIPURNA YANG MENOHOK PENGUASA

 

KH SHOLEH QOSIM|DOK

Fudhail bin Iyadh rahimahullah, berkata: Seandainya aku memiliki suatu doa yang pasti dikabulkan (mustajabah) niscaya akan aku peruntukkan untuk penguasa, karena baiknya penguasa berarti baiknya negeri dan rakyatnya.

 

DI MEDIA sosial (medsos) sekarang ramai doa yang dinilai kontroversial. Adalah doa Raden Muhammad Syafii, anggota DPR RI (Gerindra) asal Sumatera Utara, ketika menyampaikan doa penutup pada Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I Tahun Sidang 2016-2017 di hadapan Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan jajaran Kabinet Kerja, Selasa (16/8/2016) kemarin.

Baca Lengkapnya → Isinya Dipuji, Etikanya Dicaci

TEKS LENGKAP DOA MENGGEMPARKAN

Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hadirin yang berbahagia sejenak mari kita sucikan hati, kita tundukkan kepala kita memohon kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa agar kita tetap berada dalam RidhoNya.

Audzubillahiminasyaitonirojim. Bismillahirohmanirohim, washolatu wassalamu’ala asrafil anbiyai wal mursalin, sayyidina muhammadin wa’ala alihi waaskhabihi rasulillahi ajma’in.
Baca Lengkapnya → TEKS LENGKAP DOA MENGGEMPARKAN

Wednesday, 17 August 2016

Haji Berkat Menabung Rp2.000/Hari


Radiudin, petugas kebersihan
yang bisa naik haji. |IST
SURABAYA– Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Jika Tuhan sudah berkehendak, maka semuanya akan menjadi mungkin. Hal itu pula yang terjadi pada seorang jemaah haji asal Jember, Radiudin (51). Dia merupakan seorang jemaah haji yang memiliki pekerjaan sehari-sehari sebagai seorang petugas kebersihan.


Radiudin mengaku, sejak lama dia memang sudah memiliki keinginan untuk menunaikan ibadah haji. Tepatnya sejak tahun 1993 lalu. “Jadi saya menabung itu sejak 21 tahun lalu,” kata Radiudin, di Surabaya, Selasa malam (16/8).
Baca Lengkapnya → Haji Berkat Menabung Rp2.000/Hari

Madinah Berdebu, Diimbau Bermasker

Menag: Pindah Gelombang  Tak Boleh Kecuali Sakit

MADINAH- Kota Madinah di Arab Saudi sempat gerimis pada pukul 15.30 waktu Saudi, Rabu (17/8). Gerimis terjadi saat suhu sempat menyentuh 43 derajat celsius. Hujan gerimis yang disertai angin itu memicu debu. Sejumlah pejalan tampak berlari kecil untuk mencari tempat berteduh.
Baca Lengkapnya → Madinah Berdebu, Diimbau Bermasker

Belajar dari Kesungguhan Kiai Belajar

Oleh:  Nadirsyah Hosen

Prof Ahmad Chatib (Allah yarham) pernah bercerita beliau baru saja membeli sebuah buku dalam perjalanan di luar negeri. Kemudian beliau berpapasan di pintu dengan Gus Dur yang segera melihat buku bagus di tangan Prof Ahmad Chatib. Gus Dur bergegas ke dalam toko buku hendak membeli buku yang sama, tapi ternyata itu stok buku terakhir yang ada. Gus Dur kemudian cepat-cepat mengejar Prof Ahmad Chatib dan meminta beliau untuk meminjamkan buku tersebut.
Baca Lengkapnya → Belajar dari Kesungguhan Kiai Belajar

Santri - Santri NK Galis Peringati 17 Agustus

Tetap Khidmat  Walau Sarungan- Kopiah dan Nyeker


Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 71 ternyata sangat istimewa bagi santri Pondok Pesantren Nurul Karomah, Paterrongan,Kecamatan  Galis,  Kabupaten Bangkalan.
Ratusan santri yang diasuh KH Abdul Fattah Afaq ini secara khidmat dan khusyuk mengikuti upacara bendara memperingati detik-detik  Hari Kemerdekaan 17 Agustus di lapangan Ponpes Nurul Karomah,  Rabu(17/8) kemarin.
Baca Lengkapnya → Santri - Santri NK Galis Peringati 17 Agustus

Santri Harus Membuat Sejarah

Jombang- Perjuangan kemerdekaan tidak bisa dilepaskan dari peran para ulama, kaum terdidik dan elemen pondok pesantren. Meski kemerdekaan diperjuangkan oleh semua elemen bangsa, gagasan-gagasan utamanya dibentuk dan didorong oleh lapisan masyarakat yang berkesempatan meraih pendidikan pada masa itu. Karena itu, santri sebagai pemilik masa depan harus mampu membuat sejarah.

Baca Lengkapnya → Santri Harus Membuat Sejarah

Monday, 15 August 2016

Ahli Ibadah Bodoh vs Orang Tidur Berilmu

Mutiara Hati
Dalam sebuah hadis dikisahkan bahwa suatu tempo Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam mendatangi pintu masjid, di situ beliau melihat setan berada di sisi pintu masjid. Kemudian Nabi saw bertanya, "Wahai Iblis apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Maka Setan itu menjawab, "Saya hendak masuk masjid dan akan merusak shalat orang yang sedang shalat ini, tetapi saya takut pada seorang lelaki yang tengah tidur ini."
Baca Lengkapnya → Ahli Ibadah Bodoh vs Orang Tidur Berilmu

Hukum Selamatan sebelum Berangkat Haji

Tidak lama lagi musim haji tiba. Bertepatan dengan itu, sebagian saudara kita yang sudah mencukupi persyaratan dan mampu akan berangkat ke tanah suci. Di sana mereka akan menunaikan rukun kelima Islam.
Sebelum berangkat haji, mereka biasanya melakukan tasyakuran atau selamatan. Tradisi ini kelihatannya sudah membumi di Nusantara. Hampir di semua daerah ditemukan tradisi ini, meskipun dengan nama yang berbeda-beda. Secara umum mereka menyebutnya walimah safar.
Baca Lengkapnya → Hukum Selamatan sebelum Berangkat Haji